Kamis, 03 Maret 2011

Timah dan Temanku

Bagi orang yang tidak berpendidikan, mereka berfikir sangat mudah untuk menghasilkan segepok uang. Bekerja hanya perlu tenaga saja tanpa perlu adanya ilmu. Begitulah pola pikir sebagiaan orang di daerahku, Koba Bangka Tengah, yang terletak di Propinsi Bangka Belitung.
Pulau Bangka mempunyai sebutan yang bergengsi “Kota Timah”, termasuk juga diwilayah Kota. Semenjak di Koba banyak menghasilkan timah, banyak orang menggali timah di wilayah Koba untuk mencari timah. Koba dulunya merupakan tempat yang indah dengan di tumbuhi pepohonan dan air sungai masih jernih. Kata orang, dahulu masih ada anak – anak yang bermain disungai, mandi – mandi ataupun hanya bermain air. Kami telah dirusakkan oleh para penggali timah. Pohon – pohon di tebang demi menciptakan sepetak tanah penghasil timah. Apabila tidak menghasilkan timah. Apabila tidak menghasilkan timah, orang – orang pindaj mencari lahan yang lain. Di sungaipun kini jarang ditemukan orang – orang yang mandi, karena air disungai telah tercemar oleh limbah hasil penggalian timah. Orang yang melakukan semua itu tidak pernah tahu, bahwa jika sebuah tempat yang dirusaknya dapat membawa bencana.
Timah – timah yang di dapatkan dari hasil penggalian, kemudian dijual, dari hasil penjualan itu mereka akan memperoleh untung yang sangat besar. Hal ini membawa dampak buruk bagi orang – orang kecil, mereka jiga ingin memperoleh untung yang besar. Maka orang – orang kecil berpikir agar mereka dapat seperti itu. Akhirnya para petani, guru, pengangguran termasuk anak – anak sekolah, berubah profesi menjadi pencari timah atau bisa dis ebut dengan istilah ngelimbang. Akibatnya banyak pendatang yang membuka lapangan kerja di Koba sebagai pencari timah. Kota Koba malah semakin rusak. Cobalah para masyarakat tahu akan arti keindahan lingkungan. Mungkin saja mereka tidak akan berdiam diri membiarkan lingkungan menjadi rusak.

Pemerintah yang sedang besiap – siap untuk menyambut Adipura, menajdi berkecil hati, karena Kota Koba pemandangannya banyak yang rusak. Demi memperbaiki keadaan itu. Maka dibentuklah Green Babel, yaitu sebuah program untuk menghijaukan Kota Koba kembali dengan cara menanam bibit – bibit tanaman di tempat yang gundul dan tempat penggalian timah. Kegiatan ini pun melibatkan banyak pihak.
Selain merusak lingkunga, kegiatan menggali timah sedikit – demi sedikit juga mulai merusak sebagian anak – anak di Kota Koba yang terlena akan hasil penjualan timah.Mereka mulai meninggalkan bangku sekolah untuk pergi mencari timah di tempat sisa – sisa hasil penggalian orang lain. Karena mana mungkin menggalikan tanah sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan lagi masa kecil mereka yang biasanya dihabiskan untuk brmain dan belajar.Maka mereka pun telah menjadi anak – anak timah. Orang tua mereka tidak pernah perduli akan pendidikan dan kelakuan anaknya, ditambah lagi dengan anggapan para orang tuaitu, bahwa mencari uang tidaklah sulit, sehingga pendidikan anaknya diabaikan. Hal itu disebabkan juga oleh rendahnya pendidikan orang tua mereka.Masa kanak – kanak biasanya dilewati dengan dan bermai, tapi pra anak – anak timah melewati masa kecilnya dengan bekerja demi uang. Ternyata uang dapat menggelapkan mata semua oran. Hanya demi uang, orang- orang mampu melakukan apa saja.
Anak –anak didaerah juga menjadi dewasa sebelum waktunya, karena mereka punya banyak uang dari hasil kerja mereka sndiri, mereka senang berfoya – foya untuk menghabiskan uangnya, seperti mabuk – mabukan, dan merokok. Anak –anak di lingkungan timah selalu mengikuti gaya hidup negatif anak – anak kota yang sering merekA lihat di siaran televisi, yang akhirnya menjadi kebiasaan sehari - hari mereka.
Anak – anak timah mempunyai masa depan yang suram. Bagaimana tidak? Jika suatu saat nanti bahan tambang habis, bagaimana mereka akan hidup jika keahlian mereka hanya mencari bahab tambang. Mau mencari pekerjaan lain susah , karena mereka tidak mempunyai ijazah untuk mencari pekerjaan akibat mereka tidak sekolah. Itulah sebabnya jika mereka hanya peduli akan uang . Selain masa depan mereka suram. Masa depan keluarga mereka juga suram. Anak – anak timah banyak yang menjadi yatim, karena ayah mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, harus menanggung resiko yang besar. Jika pada saat menggali tanah, tiba – tiba tanah yang diatas jatuh menimpa semua yang ada di bawahnya, tak terkecuali orang yang berada dibawah. Maka tak mungkin nyawa orang itu terselamatkan, karena tertimbun tanah.
Sekarang ini juga ada Tambang Inkonvensional ( TI ) yang beroperasi tak jauh dari lingkungan sekolah. Hal ini dapat menggangu proses belajar karena banyak anak sekolah yang melihat kegiatan TI tersebut. Selain itu suara mesin – mesin TI terdengar menggemuruh, sehingga mengganggu konsentrasi pelajar. Maka hal yang terbaik untuk itu adalah janganlah Tambang Inkonvensional beropersi ditempat proses belajar berlangsung.
Akibat berdirinya TI – TI, lingkungan dapat menjadi rusak. Lingkungan yang rusak membawa mala petaka jikalau sudah rusak parah, butuh waktu yang lama untuk memperbaikinya. Seharusnya mereka berpikir jika mereka merusak alam, keindahan alam apa nanti yang akan diwariskan pada anak cucu mereka. Akankan para anak – anak dimasa yang akan datangmasih bisa melihat alam yang indah, jika alam sudah dirusakkan. Mungkin rerimbunan pohon dan kicauan burung tak terlihat lagi. Selain itu juga,jika bahan tambang diambil terlalu banyak dari bumi, pasti lama kelamaan akan habis. Jika sudah seperti itu, kemungkinan di masa mendatang tidak akan ada lagi bahan – bahan tambang.
Jika para anak – anak timah berkelakuan seperti itu, bagaimana dengan masa depan mereka? Jadi seharusnya mereka perlu dimotifasi agar terus melanjutkan sekolah. Bukankah ilmu lebih penting dari segalanya?

Tidak ada komentar: